The Author




Sita Winiawati Dewi

22.bandung.sunda
mahasiswi jurnalistik
pekerja kreatif.bersahabat
petualangan.alam.olahraga

sanguinis.koleris. minimalis.
berwajah cukup manis.tapi suka sadis



Contents

<< August 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


Tagboard



Epilogue

ananova
bbc
bbv
bloglines
boingboing
female radio
jalan-jalan


Mail me!
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


Credits

Layout
Picture
Edited
BlogdriveDesign

pengamen oh pengamen
Tuesday, February 27, 2007

Pengamen, orang yang dengan suka hati menghibur orang lain, tapi dibalik itu semua mengharapkan balas jasa. Saya pernah bersama segerombol kawan-kawan semasa SMA berdiri di tengah jalan Dago, Bandung, mencegat mobil-mobil yang lewat, menyanyi dengan suara pas-pasan demi mengharap apresiasi terhadap bakat yang belum diasah tersebut. Mencari dana. Sekarang udah nggak musim ya anak sma ngamen? Huhu..

Atau.. pengalaman bertemu 4 kelompok pengamen sepanjang Laswi - Jatinangor dengan berbagai gaya, berbagai lagu.

Atau pengamen yang menghibur pengunjung warung-warung tenda di segala penjuru Bandung.

Tapi saya belum pernah bertemu orang macam ini.. ..sampai kemarin malam.

Di malam hari dalam perjalanan pulang dan sebenarnya sudah makan malam tapi masih ada ruang kosong di lambung kiri, pisang keju coklat by Dwilingga adalah pilihan paling pas. Maka itulah yang saya dan pacar lakukan malam kemarin. Mampir di Dwilingga, dengan mata mengantuk dan tubuh penat dengan pisang keju menari-nari di kepala masing-masing. Tak lama setelah memesan, masuk empat orang laki-laki ke dalam Dwilingga, duduk di depan kami. Seorang yang duduk tepat di depan saya memakai hot pants, alias.. calana pondok. Perhatian saya teralih dari obrolan seputar wanita gebetan oleh dua pria di sebelah saya.

Selang beberapa menit, dua orang pengamen masuk, dan mulai menyanyi, lagu pertama.. errgh, sering dinyanyikan pengamen tapi maaf saya nggak tau lagu apa dan siapa yang menyanyikan. Tanpa diduga, pria berhotpants di depan saya ini memotong "Ungu dong..". Oh.. SHIT! Dan dua pengamen itu mulai menyanyi. Baru satu bait, si pria hotpants memotong lagi "Jangan itu deh.. Samson aja!". Holly CRAP!! Yah yah yah.. entah judulnya apa, yang saya inget cuma lagu itu dijadikan sontrek sebuah sinetron.

Setelah mendapat lagu yang ia inginkan, dia.. mulai.. ikut bernyanyi.. Oh.. no..
MENYANYI!IYA!!IKUT MENYANYI! Dengan suara meliuk-liuk seakan-akan menggunakan teknik vibrasi. Pisang keju datang.. saya dan pacar menunduk dalam-dalam, berkonsentrasi agar tawa tidak meledak, fokus pada makanan di depan kami, meyakinkan diri bahwa pisang keju adalah hal yang paling kami inginkan malam itu. Kami diam, membisu, mendengar suara si pria hotpants. Tanpa diduga, kawannya nyeletuk "bagus juga suaranya..". Dan si pria hotpants makin kegirangan, menyetel volume suaranya.. to the max!

Si pengamen serba salah, kikuk, kadang lirik si pengamen dan lirik di pria hotpants nggak matching tapi tampaknya vokalis utama dadakan nggak peduli. Dengan mata terpicing kala menjerit mungkin dikepalanya kami yang duduk didepannya adalah juri Indonesian Idol yang sedang terpana dengan ditemukannya bakat baru di jagad musik Indonesia. Suara si pengamen makin lama makin menciut, tenggelam, but show goes on..

...

Lagu berakhir dengan fade-out ending yang cadas.. thank God! Senyum mengembang di wajah si pria hotpants, uang 1.000 diberikan. Pengamen itu keluar dengan wajah takjub atas pengalaman yang mungkin baru pertama kali mereka alami sepanjang karir mengamen mereka.

Pisang keju dihabiskan, air teh hangat sudah berpindah ke perut kaku saya. Kami bergegas membayar dan pergi.. keluar warung, tak tahan juga..

BHWAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKKKKKKKK.....

Seketika ngantuk dan penat itu menguap entah kemana!! Terima kasih mas hotpants.. teruslah menyanyi! YOU RAWK!!!@4^*5#&



sita at 07:42 am
(24)




beach (bitch?) life
Wednesday, February 07, 2007

Suatu malam di teras tempat tinggal saya..
Saya   : aku pengen banget tinggal di tempat yang sepi.. di pulau kecil yang terpencil.. asik ya kayanya..
Dia      : terus?
Saya   : iya, pulau kecil yang ada gunung, sungai dan deket ke laut (ya iyalah, kan pulau kecil), rumahnya kecil aja dibikin dari kayu dan bahan yang 'alam' banget, halamannya yang luas, biar kalo punya anak mereka bisa main sepuasnya di sana..
Dia      : terus kalo mau belanja kemana?
Saya   : ya tiap berapa minggu sekali gitu belanja banyak buat makan dan lain sebagainya..mm, berarti harus punya helipad dan helikopter buat transportasi ya..
Dia      : terus?
Saya   : iya, harus ada kebun sama empang buat melihara ikan. hmm, tapi kerjanya gimana ya buat nyari duit..
Dia      : harus punya perusahaan sendiri, jadi tinggal ongkang kaki aja nunggu duit, orang lain suru ngurusin..
Saya   : iya bener juga.. jadi tetep aja ya harus kerja dulu.. *hff*

Beberapa hari lalu, dua orang kawan jauh ngobrol di tempat yang sama..
A         : aku pengen tinggal di desa..
B         : itu sih kalo aku udah tua, pengen di desa
A         : terus beli sapi..

Hmmm.. What a life..

Semakin banyak teman yang merindukan kehidupan seperti tersebut diatas, kok saya ngerasa semakin tua ya. huehueheuheueu..

Semakin besar, ternyata bukan materi yang saya cari. Ato memang mencari materi, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup. Jadi budak. Pertanyaan "kenapa sih harus sekolah tinggi?" "kenapa sih harus meniti karir?" "kenapa sih harus punya target?" "kenapa sih?" "kenapa sih?".
Ternyata ada titik dimana sepertinya kehidupan ala manusia purba itu lebih menyenangkan.

Makanya sejak nonton film The Beach, saya jadi terobsesi sekali. Film itu berhasil menghipnotis saya, membawa mimpi saya terbang ke sebuah pulau yang indah dan masih alami. Hanya memikirkan udara untuk dihirup dan sesuatu untuk membuat perut kenyang. Bersenang-senang. Tak kenal pagi, siang, malam. Dansa sambil mabuk. Berteriak sampai pecah gendang telinga. Kehidupan dimana tak ada yang lain selain hasrat.

Makanya saya pengen banget pergi ke Pulau Sempu, di selatan kota kelahiran saya, Malang. Akhir pekan kemarin seorang kawan semasa SMP ber-backpacking ria ke Bandung bersama dua orang lagi. Kami bertemu. Bersama tiga orang pleus satu paket semangat petualang saya menjelajah Bandung. Kami juga sempat berpapasan dengan tiga orang bule yang lagi backpacking-ria juga. Dan undangan itu datanglah "Sit, ke Malang ya.. nggak usah mikir gimana nanti, pikirin aja pulang perginya, pokonya di sana kamu jadi Ratu.." (hah? saya gantiin Mulan maksudnya?).

Hmmmm.. jadi bener-bener pengen berangkat nih.. Kalo bisa sih, ke pulau Sempu semalem (kalo betah ya dipanjangin jadi dua malem), semalem di ranu kumbolo, ke Bromo, ke Batu, ke Coban Rondo, ke Banyuwangi dan nyebrang ke Bali, main semalem ato dua malem di Bali, reuni geng SMP, reuni geng SMA Tugu, ketemu guru-guru sekolah dulu, menengok sekolahku, menengok kompleks perumahan tempatku dibesarkan.

Kira-kira saya harus ngajuin cuti berapa minggu ya? *PLAKKKKKK*



sita at 10:27 am
(21)




idolaku (part 2)
Monday, January 29, 2007

Selamat hari Senin pagi, semua.. pagi ini saya bangun dengan mata bengkak karena kerjaannya estafet liat monitor (browsing, chatting, blogging.. oh, sungguh kegiatan yang berguna bagi nusa dan bangsa!), disambung membaca Arus Balik yang baru kebaca setengahnya. Saya harus ke dokter mata nih kayanya..

Bicara soal idola, tentu yang segelintir di postingan kemarin itu belum semua. Saya punya buanyakkkk sekali idola. Mulai dari yang nggak masuk akal, sampe orang-orang terdekat saya. Waktu saya bilang saya punya idola baru, Tukul, saya serius kok.

Awalnya saya juga nggak terlalu antusias waktu ngeliat promo program Empat Mata. Saya pikir, ini pasti pengen nyaingin Om Farhan, dan pasti jatohnya, just another talkshow.. Saya pernah liat sesekali, tapi nggak terlalu fanatik. But then, saya baca wawancara Republika dengan Tukul di
sini.

Untuk saya, mengidolakan seseorang bukan hanya mengidolakan tampang, ato karyanya. Ada beberapa hal yang bisa bikin saya jadi fans, karyanya, pencapaian hidupnya, dan attitude. Karena sesungguhnya, pengertian public figure itu lebih luas dari sekedar orang yang terkenal. Banyak kok orang yang terkenal, tapi sebenarnya nggak punya sumbangsih apa-apa untuk sekitarnya. ME dan YZ juga terkenal tuh. Selebritis yang bahkan bukan artist itu masa' iya dimasukin kategori public figure? Pencapaian hidup pun sebenarnya relatif. Misalnya nih, Baihaki Hakim saat ia diangkat menjadi Dirut Pertamina memang merupakan seseorang dengan kapasitas tertentu dan layak untuk dikagumi, misalnya. Tapi itu wajar, mengingat usia dan track record hidupnya. Kalo misalnya ada seseorang di usia 30 tahun sudah jadi Dirut Pertamina (dengan prosedur yang benar) tentu saya akan pilih orang kedua itu untuk dijadikan idola. Pencapaian hidup itu bukan soal apa aja, tapi apa saja di usia berapa saja. Soal attitude, pasti dong.

Nah, kembali ke laptop. Penjualan laptop meningkat gara-gara Tukul. Hehehe.. Tadinya, -sebagai pekerja kreatif- saya pikir kemasan sebuah acara itu punya peran penting dalam menyusun sebuah program kreatif. Maka ketika saya liat konsep Empat Mata yang sebenernya nggak jauh sama talkshow pada umumnya, saya belum terkesan. Host, bintang tamu  (yang ga ada istimewa-istimewanya), live band, dan gimmick-gimmick seperlunya. Sebut aja Dorce Show, Om Farhan, Ceriwis, Back To Beck. Tapi setelah saya baca artikel wawancara dengan Tukul, dan kontemplasi yang tidak sebentar *hoek*, saya dapat kesimpulan, THE HOST IS A MATTER. Pantas kalo disebut Master of Ceremony, karena menjadi host, penyiar, pembawa acara, adalah bagaimana menjadi pakar dadakan dalam sebuah acara. Saya sampe mikir "ohh.. pantesan..", waktu Tukul bilang dia hobi baca. Saya percaya, orang yang suka baca adalah orang yang selalu ingin belajar, orang yang nggak pernah puas dengan apa yang sudah dia tahu, the more you know, the more you don't know.

Kenapa Tukul bisa membuat program Empat Mata ke jajaran teratas rating dan share televisi, tentu bukan kebetulan ato kerja sebentar ato faktor baso tahu (hoki maksudnya). Percaya deh, jadi host yang sukses itu bukan main-main. Nggak sekedar playing dumb and then people would stay and watch. Bisa membuat seseorang tetep antusias menonton dan enggan mengganti channel itu, berat. Bisa membuat orang tertawa dengan garingan kita itu nggak mudah. Butuh skill dan attitude. Juga sedikit ilmu cenayang untuk bisa memahami karakter dan psikologis penonton. Attitude, karena yang ada di dalam itu pasti memancar keluar..

Kesimpulan saya, bikinlah program yang konsepnya umum. Carilah host yang tepat!



sita at 06:46 am
(20)




idolaku
Friday, January 26, 2007

1. Mochtar Lubis



Wartawan dan penulis kenamaan Indonesia. pertama kali saya menemukan novelnya di perpustakaan sekolah. Tua dan teronggok. Salah satu novel kesukaan saya, Jalan Tak Ada Ujung. Penggambaran guru Isa yang sederhana namun nasionalis cukup membakar semangat saya. Seperti Haris Sumadiria bilang, simplex veri sigullum. Kesederhanaan adalah tanda kebenaran. Eh, ga nyambung yah..
Gaya bahasanya indah, berusaha membuktikan bahwa Bahasa itu memang berlian dalam lumpur, harta terpendam (ada yang mau kasi saya hadiah KBBI? saya dari dulu selalu nunggu hadiah ini di hari ulang tahun, tapi kok nda ada yang kepikiran ngasih ya..hoho). Salah satu adegan yang selalu saya ingat adalah ketika guru Isa berusaha bersembunyi dirumahnya, kala itu Belanda sedang melakukan penangkapan terhadap pribumi. Mochtar melukiskan suasana hati guru Isa dengan kalimat "..detik merangkak berlomba dengan abad..".
Sempat mengenyam kehidupan penjara, karena tulisan-tulisannya. Dia juga sastrawan pertama Indonesia yang mendapatkan hadiah Magsasay, untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif. Beberapa kali menjadi kandidat nobel sastra. Saya cinta sastra! huhuuuy

2.
Parlindungan Lubis



Namanya baru beredar belakangan ini, ketika satu-satunya autobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi NAZI diterbitkan tahun 2006 kemarin. Siapa dia? Seorang cucu dari raja paling disegani di Mandailing, anak seorang insinyur pertanian yang mengambil studi kedokteran di Belanda. Bocah badung ini hidup di masa penjajahan Belanda, menjelang perebutan kemerdekaan. Belajar di negri penjajah bukan berarti dia tidak membela negrinya. Ia turut bertanggung jawab atas perkumpulan Jong Batak dan sempat mengetuai Perhimpunan Indonesia di Belanda. Tidak berjuang dengan raganya, ia berjuang dengan segenap pikirannya. Tulisan-tulisannyalah yang membuat dia ditangkap dan menjadi tahanan politik di kamp keji tersebut. Dia bilang, kebanyakan orang mati di kamp itu karena mereka menyerah pada bayangan kenikmatan hidup sebelum mereka masuk ke sana. Sederhana saja, dia hanya melepaskan semua keindahan agar bisa bertahan hidup di kamp konsentrasi NAZI. "Saya hidup untuk hari ini saja". Prinsip itulah yang menjadikan dia satu-satunya orang Indonesia yang berhasil bertahan hidup sampai kamp itu dibubarkan. Selepas dari sana, ia ditawari pekerjaan sebagai dokter dengan segala fasilitas kelas satu di Jerman. Tapi ia menolak, karena ia ingin pulang kenegrinya, bekerja, dan mati disini. Autobiografinya sendiri baru terbit bertahun-tahun setelah kematiannya, padahal kawan-kawan seangkatan dan seperjuangannya masuk dalam buku sejarah, termasuk Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir.

3. Eko Mario Cipta Lubis.



Mmm.. kenapa ya? Hohohoho.. Karena dia selalu ingin jadi seperti leluhurnya. hakhakhakhak..


Eh, saya punya idola baru nih. Jadi begini, sejak dulu saya ga pernah baca bukunya
Pramoedya Ananta Toer. Karena ga tertarik, dan seperti tante saya bilang (Lika juga), Pram tuh uda serupa ikon pop budaya baca. Nggak sedikit orang yang ngaku-ngaku suka sama karyanya Pram cuma supaya keliatan pinter aja. Belum dibilang kutu buku kalo belum baca bukunya Pram. Tapi kadang menjebak orang juga untuk menghargai orangnya, dan bukan karyanya. Dalam bahasa kurang ajar, ngaku ngefans padahal ngerti juga kagak.

Nah, si pacar adalah salah satu pramania. Seperti halnya dia selalu ingin ikut baca buku-buku yang saya suka (yang tipikalnya beda banget sama genre buku kesukaan dia yang kebanyakan sejarah), dia juga pengen saya belajar untuk membaca bukunya Pram. Maka, berbulan-bulan yang lalu buku "
Arus Balik" itu diberikan pada saya untuk dibaca. Tapi sama saya ga pernah disentuh. Liat tebelnya ada uda ilfil, 760 halaman aja gitu loh. Sekarang ini, nyelesein buku tipis aja sebulan. 

Sampe akhirnya, nyaris terjadi pertumpahan darah cuma karena saya tak kunjung membaca buku TEBEL itu. Sampe akhirnya, saya ditongkrongin dan tiap kencan adalah pemaksaan membaca buku itu. Hiks.. Dia keukeuh kalo buku ini bagus, terutama buat saya yang menurut dia terlalu mudah percaya sama orang.

Sampe akhirnya, sejak dia berangkat ke Papua dan saya sering nganggur, saya baca juga. Dan entahlah.. saya JATUH CINTA sama Pramoedya. Sungguh!! Buku ini bisa bikin saya betah berjam-jam tanpa putus, sesuatu yang sulit saya lakukan sejak bekerja.

Arus balik, adalah frase yang dipilih Pramoedya untuk menggambarkan kejatuhan Nusantara pasca kejayaan Majapahit. Dulu, segalanya bergerak dari Selatan ke Utara, militer, perdagangan, semua! Nusantara adalah negara maritim terbesar di muka bumi, kala itu. Tapi lihat sekarang, Majapahit runtuh, Nusantara bubar, semua berbalik. Liat aja, McDonald dan Starbucks menginvasi tiap sudut kehidupan kita, eh, anda mungkin, saya sih nggak (nggak sering-sering maksudnya, hehe). 

Saya langsung nelpon pacar di Papua (yang kebetulan lagi di kota, jadi bisa ditelpon) dan bilang "Nanti kita kumpulin
tetralogi ya!". Dan dia pasti senang sekali sekarang.. ah, sebel!


nb. ya oloh! panjang amat yak ini postingan..
btw, idola saya nambah satu lagi.. TUKUL ARWANA!!YEAH!



sita at 02:27 pm
(12)




gila merk
Tuesday, January 23, 2007

Kasus 1

Seorang perempuan baru sampai di kantor, langsung ke pantry sambil meminta OB membuatkan kopi krim sachet, dan langsung duduk dimejanya. Nggak lama kemudian si kopi pesanan sampai.
Cewe A   : Kemaren gw ke Jakarta dong.. biasa ke rumah mertua
Cewe B   : Oh ya? Trus?
Cewe A   : Iya, gw ke PS, trus ngopi-ngopi di oh la la.. sebel deh!
Cewe B   : Kenapa?
Cewe A   : Gw abis 60rb berdua cuma buat ngopi, dan hasilnya perut gw sakit, langsung mules-mules.                       Mendingan ini, kopi seribuan tapi nikmatnya ga ada yang ngalahin. Ga pake sakit perut lagih!
Cewe B   : Kan yang 59rb buat bayar mulesnya.. hehehe


Kasus 2

Mug bergambar putri duyung warna dominan hijau ditenteng-tenteng oleh seorang laki-laki. Ia kemudian menghampiri seorang kawan wanita.
Cewe   : Eh, bagi kopinya dong..
Cowo   : Nih..
Sang perempuan menghirup aroma kopi yang nikmat, lalu menyesapnya pelan-pelan.. Matanya memejam, tanda sedang di puncak kenikmatan (dalam menikmati kopi, ya!).
Cewe   : Gila.. emang beda banget ya kalo starbucks..
Cowo   : Ha? Itu nescafe lagi isinya.. mugnya aja gw beli di starbucks..
Cewe   : ...







sita at 08:10 am
(24)





Next Page